The Orthodox Way-Kallistos Ware
Tuhan Sebagai Misteri
“Percaya kepada Allah membuat saya melihat segala sesuatu secara
masuk akal atau saling terhubung karena dari satu pencipta yang sama sehingga
tidak ada pribadi lain yang dapat melakukan itu kalau bukan Allah”
Aku dikenal tetapi aku tidak dikenal
Allah tidak dapat dimengerti oleh pikiran manusia. Seandainya bisa
dimengerti maka Dia bukanlah Allah. Suatu hari ada orang-orang yang mengunjungi
Abba Anthony tetapi diantara mereka ada Abba Joseph. Abba Anthony memberikan
pertanyaan tetapi orang muda itu dapat berkata dengan baik akan tetapi Abba
Anthony berkata “kamu belum menjawab pertanyaanku?”. Teks ini bisa dijelaskan
akan tetapi satu sisi kita tidak tahu apa.
“Ada seorang teman berbicara kepada temannya. Dia berbicara dengan Allah
yang semakin dekta dengan Allah dan merasakan bahwa wajah Allah semakin dekat
tetapi semakin jauh” St. Symeon the New Theologian.
Allah itu sesuatu yang jauh tetapi juga dekat.
Apa dan siapa Allah itu?
Dalam perjalanan hidup kita ini seperti sebuah jalan spiritual
(spiritula Way), ada dua fakta yang berkontadiksi yang pertama Allah itu jauh
tetapi juga dekat. Allah itu transenden tetapi imanen. Allah itu benar-
benar sesuatu yang lain, tidak kelihatan, tidak dapat dipahami, jauh melampaui
kita, melampaui semua kata-kata dan jauh melampaui semua pengertian kita.
Itulah Allah kita! The Greek Fathers mengatakan “Allah yang dapat dipahami
bukanlah Allah” Allah yang dapat kita mengerti adalah Allah yang dibungkus oleh
pengertian kita dan seperti idol. Kalau Allah dapat digambarkan maka Allah
tidak lebih seperti berhala. Allah yang seperti itu tidak dapat digambarkan.
Manusia diciptakan menurut gambar Allah tetapi kebalikan dari hal ini bukanlah
sesuatu yang benar karena Allah tidak dapat diciptakan menurut gambar manusia/
pikiran manusia. Tetapi sisi lain Allah yang mystery ini, pada saat yang sama
unik itu dekat dengan kita,, mengisi, hadir disegala sesuatu dimanapun kita
berada bahkan ada di dalam kita, Dia tidak dibatasi oleh ruang. Ini menunjukkan
bahwa Dia Maha Hadir, Allah yang melampui segala pengertian kita menyatakan
diriNya sebagai pribadi, Dia memanggil nama kita dan kita menjawab Dia,
sehingga di dalam Allah yang misteri ini ada hubungan kasih, itulah sebabnya
Allah itu dekat.
Allah itu terang yang tidak terhampiri. Terang itulah energi,
energi itu Allah. Divine simplicity yang berarti tidak ada sesuatu
diluar Allah. Pada dirinya Allah adalah
terang, Allah adalah kasih, Allah itu Roh, dan Allah yang satu ini terdiri dari
Bapa, Putera, dan Roh. Jadi bukan Allah memiliki terang, Atau Allah memiliki
kasih! Karena jika demikian maka ada kalanya Allah tidak memilki terang dan
kasih, dan seterusnya.
Para bapa timur menghubungkan pertemuan manusia dengan Allah itu
Seperti perjalanan seseorang mendaki gunung ditengah kabut, semakin naik keatas
akan membuat kita jatuh, pengenalan kita akan Allah juga demikian, pendakian
kita untuk semankin mengenal Allah akan semakin tertutup dengan kabut sehingga
semakin tidak jelas. Perjalanan misteri ini seperti perjalanan Abraham dalam
Kejadian 12:1, pengenalan kita akan Allah itu seperti Abraham yang kemudian “pergi..
dan taat, ada iman” Abraham beriman bahwa itu suaranya Allah dan Abraham itu
taat. Jadi untuk mengenal Allah itu berawal dari iman dulu. Seperti Musa juga
(Kel 3:2; Kel 13:21; Kel 20:21), tiga penglihatan Musa itu, justru makin gelap,
atau perjalanan Abraham tadi dari daerahnya sendiri ke negara yang tidak tahu.
Jadi memang makin kita mau mendekat dengan Allah, maka kita makin tidak tahu
tentang Allah.
Di dalam Mazmur 8:1 memaparkan dengan sangat jelas bahwa tugas kita
adalah mengagumi Dia, Sehingga tugas orang Kristen itu bukan untuk menjawab
setiap pertanyaan tetapi membuat kita makin mengerti bahwa Allah itu mystery
dan kita makin kagum dengan Allah yang mystery itu. Kita mengakui bahwa Allah
itu tidak ada sesuatu yang lebih besar yang kita pikirkan lagi, jikalau
demikian kita mempelajari Allah tidak lagi dengan statement posisif seperti
kalimat-kalimat matematika yang bisa di kalkulasi. Simbol-simbol itu juga tidak cukup untuk
menjelaskan Allah yang mystery ini, tetapi paling tidak memang ada
tresendensi Allah. Jalan spiritual adalah jalan menuju pertobatan (Metanonia;
perubahan dari Nous change of mind; hal 21 kallisatos ware), kita bertobat
bukan hanya intelek kita saja tetapi juga hati kita sehingga pendekatan Allah
yang Apophatic itu yang misteri itu membawa kita makin kagum kepada Dia
sehingga kita memiliki perasaan takut akan Allah dan menimbulkan pertobatan.
Allah yang melampui semua Bahasa dan pikiran kita, bukan membuat kita jauh dari
Dia tetapi membuat kita kagum dari apa yang kita pelajari. Allah yang melampui
statement yang positif maupun negative. Mysterion itu dari kata myein
yang artinya “menutup mata atau mulut.” Mysteri itu memang tersembunyi
namun Allah kita itu juga reveald yang menyatakan diri dari ketidakmengertian
kita. Sederhananya adalah mystery itu tersembunyii tetapi dinyatakan untuk
pengertian kita, sehingga berbiacara Allah yang tersembunyi itu berbicara
tentang Allah yang menyatakan diriNya kepada kita, pewahyuan diriNya itu
sebagai pribadi dan kasih.
Faith in God as Person
(Iman kepada Allah sebagai Pribadi)
Didalam pengakuan iman kita tidak mengatakan “Aku percaya bahwa ada
satu Allah” melainkan “aku percaya kepada satu Allah”. Ada perbedaan yang
begitu signifikan antara Belivev that dan believe in. Believe that = percaya
saja tanpa tahu orangnya/ tanpa kenal orangnya tetapi jika Believe in = ada
hubungan atau relasi antara saya dan dia, aku sepenuhnya yakin dengan kamu, aku
sepenuhnya berharap kepada kamu. Relasi terjadi karena Allah pernah hadir di
bumi, Allah bukan patung. Karena Allah itu pribadi kita dapat mempercayai Allah.
Percaya kepada Allah itu bukan untuk diargumentasikan tetapi bagaimana kita
meletakkan kepercayaan kita kepada dia yang kita kenal dan kita kasihi. Kata
percaya/ iman bukanlah argumantasi logika melainkan personal relationship.
Karena iman adalah hubungan pribadi maka hubungan pribadi ini akan terus
dikembangkan sama seperti kita yang berelasi dengan seseorang. Hubungan kita
dengan Allah juga perlu waktu di dalam proses. Sehingga tidak dipungkiri bahwa
didalam kepercayaan akan Allah dapat menimbulkan keraguan, itu adalah hal yang
sangat wajar didalam sebuah hubungan. Oleh sebab itu diperlukan iman adalah hal
yang kita harapkan tetapi juga hal yang tidak bisa kita lihat (Ibrani 11:1).
Akan tetapi iman seharusnya tetap dipegang. Walaupun kadang naik dan kadang
turun.
Seorang bishop bernama Robinson berkata “ tindakan iman adalah
suatu dialog terus menerus yang disertai dengan keragu- raguan” Thomas Merton
says “imam merupakan sebuah pergumulan tentang Allah sebelum kita menemukan
kepastian akan Allah. Ini merupakan suatu hubungan iman yang dinamis akan
Allah. Allah bukanlah sekedar teori saja melainkan Dia adalah pribadi oleh
sebab itulah mengenal Allah lebih penting dari pada mengenal akan
keberadaanNya. Mengenal pribadi lebih penting dari pada wujud. Iman yang adalah
sebuah hubungan. Iman menimbulkan kasih karena ada hubungan pribadi maka kita
dapat melihat didalam sejarah bagaimana mereka masih mengasihi Allah dengan
segala penderitaan. Hal ini dikarenakan iman yang menghasilkan kasih. Allah
yang dekat itu dinyatakan dengan Allah yang sebagai personal dan Allah sebagai
kasih.
Three “Pointers”
Pertama, Direct Experience yang berarti Allah adalah yang
kita kasihi. Ilustrasi: Ketika kita tidak perlu membuktikan bahwa teman kita
itu ada atau tidak. Sama halnya ketika kita percaya Allah yang adalah kasih.
Bisa mengasihi ini merupakan bukti nyata bahwa Yesus pernah jadi manusia.
Akan tetapi Allah tidak bisa kenal dengan bertatapan muka melainkan
dapat memperkenalkan diriNya dengan berbagai macam cara sama seperti Allah yang
dikenal oleh Rasul Paulus merupakan Allah yang menampakkan diriNya (Kis. 17:
1-9). Jadi bagi Rasul Paulus percaya pada Yesus itu dimulai dari pengalaman
langsung dari pada Rasul Paulus dimana Allah menampakkan diri melalui cahaya
dan suara. Tidak semua yang dapat mengalami pengenalan langsung dengan Allah.
Berikut merupakan bukti bahwa Allah itu ada:
a.
Lihatlah dunia
sekeliling kita, bukankah semuanya itu berasal dari Allah. Bagaimana organ
tubuh kita tersusun dengan begitu rapi dan teratur.
b.
Kita dapat
menemukan Allah didalam diri kita sendiri. Misalnya kita memiliki kewajiban
moral. Salah dan benar. Kita punya hati nurani bahwa menipu orang itu jahat
atau mencemarkan nama baik oprang itu jahat. Dari mana moral atau hati nurani itu berasal?
Didalam hati manusia ada satu kedalaman an-konsius yang mencari sesuatu yang
melampaui kekuatan di dalam dirinya. Mis: menyembah matahari, bulan, pohon,
patung. Ini adalah hal yang secara langsung tidak sadar, ini merupakan hati
nurani yang secara tidak sadar menyatakan bahwa manusia itu mencari Allah.
Karena manusia jatuh kedalam dosa maka gambar Allah tidak lagi sejati melainkan
dari gambar manusia yang jatuh. Dewa dan dewi merupakan perwujudan dari pada
manusia yang jatuh.
c.
Allah itu bisa
dibuktikan lewat hubungan sesama manusia. Kenapa kita dapat mengatakan bahwa
mencintai orang lain. “kamu nggak akan mati”. Ini merupakan hubungan dengan
orang lain. Hubungan itu menghasilakn kasih di dalam setiap orang yang
menjalani. Ini merupakan sebuah pengalaman bahwa kasih itu berasal dari Allah.
Kasih dan keadilan dapat dilihat jika manusia menjalani hubungan dengan orang
lain.
Tetapi dari
ketiga ini tidak dapat dirumuskan secara nyata bahwa Allah itu nyata seperti
membukgtikan bahwa meja itu ada. Yang lebih penting adlaha “Percaya kepada
Allah membuat saya melihat segala sesuatu secara masuk akal atau saling
terhubung karena dari satu pencipta yang sama sehingga tidak ada pribadi lain
yang dapat melakukan itu kalau bukan Allah”
Essence & Energi
(Hakekat& Energi)
Kalistos Ware : tidak kenal tetapi tidak kenal. Tersembunyi tetapi
dinyatakan. Natur dan energi atau tindakan. Atanasius mengatakan “segala hal
yang menyangkut esensinya Allah kita tidak pernah bisa pahami tetapi Dia bisa
dipahami dalam segala hal melalui tindakan-tindakan energynya. Basil “tidak
seorangpun dapat melihat esensi Allah tetapi kita dapat percaya pada esensi
Allah karena kita dapat mengalami energynya.” Karena Allah itu mystery kita
tidak dapat mengetahui esensinya jika kita tahu esensinya kita mengalami
energyNya. Ketika kita berbicara mengenai energy ilahi ini bukan berarti dengan
energy yang keluar dari Allah.
Jika kita tahu esensinya itu karena kita mengalami energinya. Jadi
Bapa gereja membedakan ada esensi dan energinya (kehadirannya). Ketika kita
berbicara tentang energi ilahi, kita tidak berbicara tentang enenrgi yang
keluar dari matahari. Energinya Allah itu bukan pancaran dari Allah, tetapi
energinya Allah itu Allah sendiri, ini bukan sebuah pancaran dari Allah (ini
adalah divine simplicy). Jadi energi ini bukan semacam pemberian (sesuatu
pengantara antara Allah dengan manusia) Sebaliknya energi itu adalah Allah sendiri yang
menyatakan diriNya. Ketika manusia berpartisipasi di dalam Allah sendiri
sepanjang ini mungkin bagi ciptakan, sebab Allah adalah Allah dan kita adalah
manusia, sepanjang Alah memiliki kita dan kita tidakk bisa mengatakan kita
memiliki Allah. Jadi akan salah bahwa sesuatu yang keluar dari Allah, tetapii
Allah yang bertindak. Seperti halnya Allah yang menciptakan itulah energinya
Allah sebagai pencipta, jadi kita juga tidak sallah bahwa energy adalah bagian
dari Allah, energy itu Allah itu sendiri, Allah itu simple tidak terbagi-bagai,
tidak ada bagian-bagian. Allah itu esensi, Allah itu energi, Allahh itu
tersembunyi, Allah itu juga mewahyukan juga. Keilahian Allah itu simple dan
tidak bisa dilihat, tidak bisa dibagi. Esensi Allah menyatakan keberadaan diri
Allah secara utuh yang kita tidak tahu sama sekali. Energinya itu yang
menyatakan keberadaan Allah dalam tindakannya seperti Dia mencipta, dia
berinkarnasi. Allah bertindak, hadir dalam diri kita. Jadi kalau dikatakan
kasih karunia, anugerahh Allah itu adalah energi Allah, energi Allah itu ya
Allah itu sendiri. Sama seperti halnya kita bahas surge, surge ya Allah
sendiri. Sama seperti kita mengatakan Allah itu terang, maka terang itu ya
Allah itu sendiri jadi bukan memiliki! Sehingga perbedaan esensi dan energi
Allah ini adalah menolong kita untukk mengetahui bahwa Dia tidak dapat di akses
tetapi ada energi yang bisa kita ketahui tentangNya. The essence-energies
distinction is a way of stating sim ultaneously that the whole God is
inaccessible, and that the whole God in his outgoing love has ren dered
himself accessible to man. Dengan
hal itu maka kita bisa mengenali theosis menjadi seperti Allah, kita bisa
menyatu dengan energinya, karena kita tidak bisa menjadi Allah tetapi kita bisa
seperti Allah karena energinya. Jadi kita mengalami union itu karena energinya,
jadi ini union, bukan melebur atau mencabur aduk.
Kesimpulan:
Allah kita adalah pribadi yang tidak dapat dikenal di dalam
esensinya tetapi dikenal di dalam energinya. Allah itu melampaui segala yang
kita pikirkan, Bahasa kita, tetapi energinya itu membuat kita dekat dengan kita
bahkan ada di dalam kita.
Langkah kita mengenal Allah itu harus seimbang, jadi dinegasikan.
Setiap makhluk yang keliatan maupun yang tidak keliatan (malaikat) itu
sebetulnya adalah theophany penampakan dari Allah. Orang percaya adalah mereka
dimanapun yang mereka lihat adalah Allah dan dimana-mana bersuka karena Allah.
Personal
God as Mysteri merupakan hal yang sangat membinggungkan bagi
penulis secara pribadi. Jika Allah mysteri tujuan dari pada iman menjadi sangat
meragukan. Akan tetapi melalui hal yang penulis telah pelajari ini ternyata
Allah ada di dalam diri setiap manusia. Berarti penulis sebenarnya dapat
melihat Allah selalu melalui orang disekitar penulis karena pada hakekatnya
manusia adalah gambar dan rupa Allah. Allag yang adalah pribadi kemudian dapat
untuk mengasihi dan Allah adalah kasih. Tidak ada alasan untuk tidak mengasihi
Allah. Hubungan intim adalah kunci khusus yang Tuhan berikan untuk memberikan
akses kepada setiap orang yang mau untuk percaya kepadaNya. Oleh sebab itu
kebersediaan diri setiap manusia yang menjadi dasar dari pada hubungan yang
semakin erat untuk dapat dijalin setiap kita dengan Allah. Amin!
St Maximus the Confessor :
The most important thing that happens between God and the human
soul is to love and to be loved.
St Dionysius the Areopagite:
Love for God is ecstatic, making us go out from ourselves: it does
not allow the lover to belong any more to himself, but he belongs only to the
Beloved.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar